Tuesday, June 17, 2014

Cara Menjangkau Orang Menjadi Murid Yesus


[Belajar dari Pendekatan Yesus dalam Lukas 5:1-11]
Oleh. Elifas Tomix Maspaitella


Pengantar
Tentang Pola Pelayanan Gereja, dalam Tata Gereja GPM, pasal 7, disebut bahwa:
GPM menjalankan tugas pelayannya dengan berpolakan kehidupan Yesus Kristus sebagai:
1.     HAMBA yang taat dan mengosongkan diriNya untuk melayani bukan untuk dilayani;
2.     IMAM yang rela berkorban tanpa pamrih demi tugas-tugas pelayanan pendamaian di antara Gereja, masyarakat dan sesama manusia;
3.     NABI yang menaklukkan segala sesuatu ke bawah penilaian Firman Allah terutama untuk menegakan keadilan, kebenaran dan kesejahteraan umat manusia, gereja, masyarakat, bangsa dan negara;
4.     GEMBALA yang mengenali umatnya, menjalankan tugas-tugas kepemimpinan dan pelayanan Gereja dengan kesabaran, mencari yang terhilang dan mengumpulkan yang tersesat, sebagaimana diperlihatkan oleh Gembala Agung Yesus Kristus;
5.     PENGAJAR yang mengajar dengan memberi teladan untuk mencerdaskan umat secara spiritual, intelektual, emosional dan sosial.

Tentang itu ditegaskan bahwa, seluruh pelayan dan warga gereja GPM bertanggungjawab melakukan segala tugas panggilan dan pengutusannya menurut atau mengikuti pola keteladanan Yesus. Karena itu yang dimaksud bahwa pelayanan gereja itu Kristosentris tidak sekedar berpusat pada Yesus dalam dimensi misioner tetapi juga dalam dimensi etik/keteladanan gereja.
Satu hal yang penting dalam kaitan dengan pola keteladanan Yesus itu ialah aspek metode atau lebih praksis lagi cara yang Yesus lakukan dalam menjalankan tugasNya. Cara apa pun yang Yesus lakukan sesungguhnya adalah cara yang lazim dilakukan siapa saja. Namun dimensi kuasa [manna] yang membuktikan bahwa ada nilai lebih dari cara apa pun yang dilakukan Yesus. Salah satunya yang dapat kita baca dalam Lukas 5:1-11.
Tulisan ini dimaksudkan untuk berbagi tentang metode atau cara pemuridan yang dilakukan Yesus. Sehingga dengannya, para perangkat pelayan Jemaat, atau Jemaat secara umum bisa memedomani untuk menopang tugas bergereja di Jemaat.

Pendekatan Yesus
Sebuah pendekatan atau cara menunjuk pada teknik atau seni tertentu. Pelayanan Gereja dalam dimensi pemberitaan firman, pekabaran injil [PI], pastoralia adalah seni melayani. Sebagai sebuah seni, maka hal itu perlu dijalankan dengan budhi yang halus [setia, tekun, jujur, sungguh-sungguh, sabar, lemah lembut, sopan, toleran, disiplin]. Mengelola budhi yang halus dalam seni melayani merupakan cara memenuhi panggilan dan pengutusan secara sadar.
Dalam Lukas 5:1-11, kita bisa belajar dari cara yang digunakan Yesus. Penting dipahami bahwa, perjumpaan Yesus dengan para calon muridNya itu sangat singkat, namun hasilnya efektif karena perjumpaan itu memiliki efek pengubah yang sangat luar biasa. Setiap perjumpaan yang berisi komunikasi antarpribadi perlu memberi efek pengubah pada diri seseorang. Memang ini memerlukan seni atau keterampilan tersendiri, terutama cara mengemas informasi [pesan], cara meyakinkan dan menumbuhkan rasa percaya. Lagi-lagi keteladanan diri merupakan faktor penting di sini. Baiklah kita belajar dari cara yang Yesus gunakan:

1. Bertemu langsung//Tatap Muka//Bakudapa
Yesus tidak sekedar bertemu langsung atau bertatap muka dengan para calon muridNya atau dengan orang banyak lainnya. Lukas 5:2-3 menjelaskan bahwa, Yesus bertemu langsung dengan Simon dan saudara-saudaranya di tempat dan waktu mereka sedang bekerja. Yesus tidak mengundang mereka datang ke suatu tempat yang telah ditentukan. Melainkan datang ke tempat mereka dan berada di dalam waktu ketika mereka sedang melakukan pekerjaan pokoknya.
Jadi Yesus menerima keberadaan mereka apa adanya, dan mereka pun menerima Yesus di tempat mereka bekerja [yang bau amis, kotor, dan dalam pandangan umum mungkin tidak layak].
Tidak hanya itu, Yesus malah naik ke dalam perahu mereka. Sudah jelas perahu itu pun belum selesai dibersihkan. Artinya Yesus tahu benar kondisi perahu itu yang amis; barang-barang berserakan di dalamnya, malah tempat duduknya pun pasti basah.
Rupanya di tempat itu bukan Simon dan saudara-saudaranya saja yang ada, tetapi juga orang banyak lainnya [mereka yang mengerumuninya, dan bisa juga yang datang untuk membeli ikan].

2. Duduk dan Berbicara [Mengajar]
Yesus yang sudah naik dalam perahu itu, dikabarkan duduk dan mulai mengajar orang banyak dari atas perahu. Yesus memilih tempat duduk dan wahana bertemu yang juga tidak asing atau tidak berbeda dari keberadaan orang-orang di situ.
Perahu merupakan wahana yang dimiliki para nelayan. Masyarakat pesisir pasti tidak asing dengan wahana itu pula. Pantai merupakan lingkungan perjumpaannya, dan di situ ada banyak orang yang datang dengan rupa-rupa keperluan/kebutuhan/harapan. Dan Yesus duduk di situ dan mengajar mereka di situ pula. Ia tidak meminta mereka ke suatu tempat yang lain supaya Ia bisa mengajar mereka. Ia langsung memilih tempat itu untuk mengajar mereka di situ pula. Jadi semuanya serba ‘lokalitas’ – artinya, langsung di tempat di mana orang banyak itu ada. Tempat yang tidak asing bagi mereka.

3. Mengajak Bekerja [Menetapkan agenda guna mencapai tujuan]
Dengan mengajar orang banyak di pesisir danau Genasaret itu, sudah tentu mereka terpuaskan karena apa yang mereka harapkan sudah diperoleh. Namun bagaimana dengan Simon dan rekan-rekannya, nelayan dan pemilik perahu itu?
Motivasi Yesus datang ke pesisir Genasaret adalah berjumpa dengan Simon. Ternyata banyak orang mengikutinya, untuk itu Ia melayani kebutuhan mereka [mengajar], supaya mereka tidak kecewa. Setelah itu, Ia kembali ke tujuan utama, yaitu menetapkan agenda kerja dengan Simon dan saudara-saudaranya.
Kata Yesus “bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan” [ay.4] menegaskan bahwa:
-           Tujuan Yesus dengan Simon dan saudara-saudaranya itu tidak berubah
-           Ia tetap mengakui keberadaan Simon dan saudaranya sebagai nelayan
-           Ia menghormati kerja  mereka dan malah mendorong mereka bekerja; Ia tidak menolak profesi mereka, melainkan terlibat secara bersama-sama dalam pekerjaan mereka

Respons Simon dalam ayat 5 menjadi menarik. “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga’. Penting diingat, dalam ayat 5 ini, Simon menyapa Yesus dengan sapaan ‘Guru’.
Simon telah melaksanakan tugasnya, dan gagal [tidak berhasil]. Kini ia mengakuinya tetapi ia kemudian mau melaksanakan pekerjaannya itu sesuai agenda Yesus [bd. Ungkapan Simon ‘karena Engkau menyuruhnya’]. Jadi Simon melakukan apa yang lazim ia lakukan tetapi kini bukan atas pengalamannya melainkan atas perintah Yesus. Ini dimensi baru dalam suatu agenda hidup/kerja manusia, yaitu ketika kita melakukan apa yang biasa kita lakukan tetapi atas kehendak atau perintah Tuhan.
Pada dimensi yang baru itu, apa yang dilakukan Simon berhasil malah melebihi apa yang biasanya mereka dapati. Hal ini dilukiskan dari jala yang nyaris robek, perahu yang tidak memuat ikan hasil tangkapan, dan permohonan bantuan kepada perahu-perahu lain di sekitar mereka. Pada peristiwa itu, pengenalan Simon kepada Petrus mengalami pembaruan secara radikal. Dalam ayat 5 ia menyapa Yesus ‘Guru’, dan pada ayat 8 ia menyapa Yesus ‘Tuhan’. Artinya, bekerja dalam dimensi yang baru tadi membuat kita semakin mengenal dan percaya siapa Tuhan kita. Tanpa bekerja pada dimensi baru itu, pengenalan kita tentang Tuhan tidak akan berkembang, malah bisa saja mengalami degradasi/penurunan kualitas percaya.

4. Mengubahkan Sang Murid
Simon, Yakobus dan Yohanes, dan rekan lainnya telah berhasil dijangkau oleh Yesus. Keberhasilan Yesus dibangun dari perjumpaan awal tadi, kemudian adanya rasa percaya [setelah mendengar Ia mengajar], ketaatan mereka bertumbuh melalui sikap mereka menyambut ajakan Yesus untuk mencari ikan lagi [dengan melupakan lelah semalam//dimensi kerja keras atau sungguh-sungguh], dan menuruti kata-kataNya, serta menyaksikan bagaimana kerjanya berhasil melimpah.
Bekerja dalam dimensi kuasa Tuhan akan membuat kerja yang biasa berbuah hasil maksimal [berkelimpahan]. Untuk memotivasi orang seperti itu perlu ada perjumpaan langsung dan pesan-pesan yang konkrit melalui komunikasi yang cerdas pula.
Karena keberhasilan tadi, maka Yesus tidak berhenti sampai di situ. Ia malah mengubahkan Simon, Yakobus, Yohanes dan murid lainnya untuk menjadi ‘penjala manusia’ [ay.10-11]. Artinya, mereka akan bekerja dalam wujud yang baru, tetapi dengan metode dan pengalaman yang pernah mereka miliki. Mereka terbiasa mencari ikan, dan terkadang pulang tanpa membawa hasil. Kini mereka harus mencari [menjala] manusia. Walau dihadapkan pada banyak tantangan [tidak berhasil], tetapi mereka harus melakukannya bukan menurut agenda mereka, tetapi harus menurut agenda Tuhan.
Jadi pengalaman sebagai nelayan menjadi sumber-sumber motivasi tentang kerja tekun, sabar, hati-hati [mempertimbangkan aspek-aspek ancaman, tantangan, peluang], disiplin [bisa sehari tanpa tidur], bersama-sama/kerjasama, taat pada perintah juru mudi [kepemimpinan], walau gagal tetapi harus terus siap untuk terus bekerja [tidak gampang menyerah]. Pengalaman itu bisa ditransformasi oleh kita masing-masing sesuai dengan profesi yang kita atau warga jemaat tekuni.
Maka ternyata, tujuan utama Yesus dengan Simon dan rekan-rekannya, atau tujuan utama kita dalam menjangkau orang menjadi murid Yesus adalah mendorong orang itu mengalami perubahan, sebab ia tidak bisa terus ada dalam situasi diri yang tidak mengutungkan.
Langkah dan/atau beberapa prinsip ini perlu menjadi pertimbangan kita bersama. Jemaat ada dalam ruang profesi masing-masing. Ke depan pun kita bergumul dengan pemilihan Majelis Jemaat, atau masalah-masalah rumah tangga jemaat. Cara-cara Yesus ini bisa menjadi acuan bagi kita guna meningkatkan kualitas pelayanan di tengah jemaat.

[Ibadah Keluarga Perangkat Pelayan Jemaat Rumahtiga
17 Juni 2014. Rumah Dkn. S. Leimena – Sektor Kalvary]     

Thursday, May 22, 2014

‘Saya’: Kesantunan dalam Rajutan Etik Orang Maluku Utara




Oleh. Elifas Tomix Maspaitella


SEBUAH KESAN AWAL
Dalam tata Bahasa Indonesia, personal pronoun, lazimnya yaitu:
-         ‘aku’ atau ‘saya’ = kata ganti nama orang pertama tunggal
-         ‘anda’, ‘kamu’ = kata ganti orang kedua tunggal
-         ‘kita’, ‘kami’,  ‘mereka’ = kata ganti orang ketiga jamak

Namun, jika anda ke Maluku Utara [dan/atau Sulawesi Utara], anda akan menjumpai penggunaan pronoun yang sedikit berbeda dari kelaziman tata bahasa tadi. Orang pertama  tunggal dalam cara membahasa orang-orang di Maluku Utara ialah ‘kita’. Kata ganti ini dikenakan kepada subyek orang pertama tunggal, pada situasi membahasa yang menunjuk pada diri sendiri. Tetapi pada situasi membahasa yang menunjuk kepada orang ketiga jamak pun digunakan ‘kita’. Jadi perbedaannya terletak pada situasi membahasa mereka.
Sebagai sebuah fenomena [the phenomena of speech] sudah tentu perlu ada penelusuran khusus terhadapnya. Saya tidak memiliki kompetensi ke arah itu. Sebab ini memerlukan sebuah riset dan apalagi saya bukanlah seorang yang secara khusus belajar linguistik/sosio-linguistik. Saya pun bukan orang Maluku Utara, atau setidaknya tinggal di Maluku Utara dalam jangka waktu yang panjang, menjadi bagian dalam komunitas membahasa itu [language user].
Sehingga bahasan ini bukanlah sebuah bahasan dari sudut pandang sosio-linguistik, walau saya harus mengaku, itu tidak bisa dihindari. Juga bukan bahasan dengan mengangkat perspektif emic yang mendalam, karena saya terbatas secara waktui dan juga dalam pengalaman membahasa dengan orang-orang Maluku Utara.
Untuk tidak kalalerang  [kesasar, tak tahu jalan] di dalam pusaran keilmuan dan sosial yang [harusnya] disyaratkan itu, saya memilih rumpunan ilmu-ilmu sosial, untuk mengkaji bagaimana membahasa itu terbentuk dari relasi interpersonal atau antarpersonal. Bagaimana membahasa sebagai sebuah media semantik yang telah berhasil mengungkapkan kedirian orang-orang Maluku Utara, dan bagaimana membahasa itu membentuk level etik [perilaku] di dalam hubungan inter dan antarpersonal tadi.
Tulisan ini disusun dari pengalaman saya berelasi langsung [dalam waktu yang sangat terbatas] dengan orang-orang Maluku Utara, saat saya, dalam tugas selaku Pendeta GPM berkunjung ke Ternate dan Bacan pada tahun 2010, untuk evaluasi pelaksanaan Pola Induk Pelayanan dan Rencana Induk Pengembangan Pelayanan [PIP/RIPP] GPM 2005-2015. Ditambah dengan pengalaman saya datang ke Ternate [2012], Labuha [Bacan, 2013], Wayaloar [Obi, 2013], Falabisahaya [Sula, 2013], Ternate lagi [2014] dan Mayau [Batang Dua, 2014] dalam tugas selaku Ketua Umum PB AMGPM.
Dalam waktui terbatas itu, saya justeru menemui fenomena membahasa yang menggelisahkan, sedikit menampilkan kesenjangan, yakni penggunaan kata ‘saya’, yang tidak menunjuk pada aku sebagai orang pertama tunggal, melainkan menjadi semacam ‘afirmasi diri’ [pengakuan diri], yang cenderung bermakna etis.
Ungkapan ‘saya’ digunakan oleh seseorang pada saat kepadanya ditanyakan atau dinyatakan sesuatu. Ungkapan itu digunakan seperti pengakuan bahwa, itu benar, itu saya, atau mengiyakan semua yang benar dan ditujukan kepada person tertentu. Menurut beberapa orang, ungkapan ‘saya’ juga sering berarti ‘iya, benar’.
Jadi, pada saat ‘kita’ digunakan sebagai penunjuk orang pertama tunggal [aku, saya], maka ‘saya’ digunakan sebagai afirmasi diri, atau afirmasi kebenaran yang melekat dalam diri dan tindakan ‘kita’ [baca. saya].
Dalam matra membahasa, penggunaan ungkapan ‘saya’ pada arti seperti dipahami orang Maluku Utara merupakan suatu model kesantunan yang melukiskan bahwa integritas diri mereka ditenun melalui pijar-pijar makna kebenaran. Kebenaran itu melekat atau merupakan fakta inhern dalam identitas orang Maluku Utara. Sehingga menolak kebenaran dalam diri, sama dengan menghancurkan integritas diri. Menyangkali kebenaran dalam relasi inter dan antarpersonal sama dengan menghancurkan tatanan kebenaran umum dalam masyarakat.

DIALOG SAYA DAN ‘SAYA’: Memintal Makna Diri
Minggu subuh [11 Mei 2014, jam 05.29 WIT – sesuai penunjuk waktu pada HP saya], kami tiba di Pelabuhan Penyeberangan Mayau, Batang Dua, Maluku Utara, untuk pelaksanaan MPPD ke-3 AMGPM Daerah Ternate. Setelah disuguhi segelas kopi susu dan katupa [ketupat] santang serta ikan goreng dan sambal, kami akan melakukan perjalanan ke Jemaat GPM Efata Mayau.
Sebuah mobil Kijang sudah menunggu di depan pintu pelabuhan. Di situ terjadi dialog yang menarik antara Ketua Klasis GPM Ternata, Pdt. Odie Ririmasse dan Lurah Perum, Mayau.
Kekla     : wah, jadi pak Lurah yang jemput e
Lurah    : saya [sambil sedikit menundukkan kepala]
Kekla     : jadi bapa lurah punya Kijang nih tetap mantap saja e
Lurah    : saya [tetap sambil sedikit menundukkan kepala, bahkan badan bagian punggung ke kepala]
                 [Kami kemudian naik ke mobil yang kemudian melaju ke Jemaat GPM Efata Mayau. Dalam perjalanan terjadi pula dialog, dan saya sengaja berdiam untuk mengamati pola membahasa Pak Lurah]
Kekla     : Pak Lurah…
Lurah    : saya [tetap sambil sedikit menundukkan kepala, bahkan badan bagian punggung ke kepala, padahal beliau sedang mengendarai mobil]
Kekla     : tadi waktu di Ternate saya kira bapa tidak ke Mayau [sebelum menyeberang dengan KMP Feri, kami sempat bertemu Pak Lurah di Pelabuhan Bastiong, Ternate]
Lurah    : ‘kita’ memang sudah mau datang sudah, bapa

Sewaktu kami masih di Pastori Klasis GPM Ternate pun, dalam beberapa kali menerima panggilan telepon, Ketua Klasis masih fasih menggunakan istilah ‘saya’ untuk menunjuk ke dirinya sebagai orang pertama tunggal. Ini dimaklumi sebab beliau baru dimutasikan dari Klasis Buru Selatan ke Ternate. Berbeda dengan teman saya, Pdt. Rudy Rahabeat, yang sudah sejak 2011 bertugas sebagai Ketua Majelis Jemaat GPM Ternate. Beliau fasih melafalkan ‘kita’ untuk menyebut dirinya dalam komunikasi dengan anggota jemaat. Serta juga fasih melafalkan ‘saya’ sebagai afirmasi dirinya, seperti halnya orang-orang Maluku Utara pada umumnya.
Dialog tadi dan gambaran yang saya dapati dari pola membahasa orang-orang Maluku Utara hendak menegaskan bahwa, mereka telah menerima kenyataan membahasa di mana ‘kita’ adalah sebutan bagi orang pertama tunggal, menunjuk kepada aku. Sebaliknya ‘saya’ merupakan bentuk afirmasi diri yang menunjuk pada sebuah esensi kebenaran diri. Sehingga jika orang dari luar komunitas Maluku Utara membahasa dengan menyebut ‘saya’ untuk menunjuk dirinya atau ‘kita’ untuk menunjuk orang ketiga tunggal, itu terpahami secara baik. Penggunaan istilah bisa berbeda dalam satu persitiwa komunikasi/dialog, tetapi pintalan maknanya sama-sama dipahami tanpa ada rasa perbedaan dalam komunikasi itu.
Pesannya ialah, membahasa masyarakat, seturut kosa kata yang digunakan menggambarkan keberadaan diri dan komunitas sebagai entitas kultur. Di dalamnya terpintal pula rajutan etika yang tergambar dalam tutur kata dan juga gesture [gerak tubuh, mimik, intonasi bicara] pada saat berbicara. Gesture merupakan faka para-linguistik yang selalu mampu melukiskan sikap etis seseorang atau sekelompok orang. Pada suatu komunitas, gerak anggukan kepala mungkin bermakna setuju, tetapi pada komunitas membahasa lain, itu merupakan model para-linguistik yang berarti membantah atau tidak setuju. Tentu masih banyak gesture lain yang bisa dibahas di sini.
Rajutan etik itu dinampakkan salah satunya melalui sikap sedikit menundukkan kepala atau badan dari punggung ke kepala, pada saat menyebut/menggunakan kata ‘saya’ sebagai afirmasi diri dan kebenaran diri. Sikap Lurah yang melakukan hal itu walaupun sedang mengendarai mobil sekalipun, menggambarkan bahwa afirmasi diri dan kebenaran diri itu telah menyusun level identitas atau gaya hidup mereka. Gesture Lurah sebelum dan pada saat mengendarai mobil bukan sekedar sebuah petanda, tetapi sebuah pintalan pesan etik yang kuat. Jadi penggunaan sebutan ‘saya’ disertai gesture serupa itu menegaskan sikap menghargai orang lain, dan afirmasi kebenaran diri.

ASPEK LAIN DARI KEMATIAN BAHASA
Fenomena membahasa orang-orang Maluku Utara seperti itu haruskah mendapat kritik dari sudut pandang Tata Bahasa Indonesia? Apakah penggunaan ‘kita’ dan ‘saya’ seperti pintalan makna orang-orang Maluku Utara merupakan bentuk kesesatan membahasa, karena keluar dari rule Tata Bahasa Indonesia? Saya tidak menelusuri secara mendalam bahasa etnik di Maluku Utara. Namun saya menemukan bahwa orang Maluku Utara umumnya pula menggunakan Proto Melayu sebagai lingua franca sampai saat ini. Mereka telah hidup melintasi zaman dan abad dengan gaya membahasanya.
Dalam teori, David Crystal [2000:1-13] berkata, fenomena kematian bahasa [language death] terjadi ketika tidak ada lagi orang yang menggunakan bahasa itu secara umum/massal. Menurutnya native speaker merupakan komunitas yang membahasa sesuai dengan bahasanya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kematian bahasa sekaligus berdampak pada kematian komunitas. Menurut Crystal, hal ini sudah sering diilustrasikan ibarat obituary-obituary kematian seseorang atau suatu komunitas. Pada saat anda menjadi orang terakhir yang membahasa menurut bahasa masyarakat [native language] maka anda telah mati, seperti bahasa itu pun telah mati.
Yang saya hendak katakan di sini ialah, menganggap penggunaan ‘kita’ dan ‘saya’ sebagai bentuk kesesatan dalam Tata Bahasa Indonesia, atau suatu pola membahasa yang salah, itu sama dengan kita membunuh orang-orang Maluku Utara. Pola membahasa mereka bukanlah sebuah bentuk penyimpangan perilaku membahasa dan bukan pula penyimpangan perilaku etis masyarakat.
Pola membahasa itu pula yang disebut Crystal [2000:5] sebagai variasi dialeg. Tetapi variasi dialeg sering dijumpai pada intonasi [tinggi, rendah, mendayu-dayu] atau perubahan fomenik [tanda vokal atau huruf vokal], seperti ‘gunung’ dan ‘gunong’, atau ‘pergi’, ‘pigi’ dan pi’, perut menjadi poro [Maluku Tengah] atau puru [Maluku Utara].
Penggunaan ‘kita’ dan ‘saya’ bukanlah sebuah variasi dialeg dalam arti itu, tetapi perbedaan pola bertutur yang cukup tajam dengan komunitas membahasa lain seperti orang-orang di Maluku, Jawa, dsb. Orang Maluku dan Maluku Utara sama-sama menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa sesehari, tetapi di antara dua sub suku ini sendiri terdapat perbedaan pola bertutur yang signifikan. Ada level etika yang menunjuk pada konsep diri yang kuat, dari gambaran pola membahasa orang Maluku Utara.

‘SAYA’ DALAM RAJUTAN ETIS: Language-Games yang bermakna
Berbicara tentang bahasa, kita tentu akan ingat pada Ludwig Wittgenstein [1889-1951] dengan teorinya language-games. Teori ini sering dipahami dan kerap disebut ketika seseorang secara sengaja menggunakan kosa kata tertentu atau istilah baru untuk menyebut suatu hal secara lain dari kebiasaan umum.
Padahal teorinya Wittgenstein tentang language-games tidak bermuara ke sana. Saya membaca buku Grayling  yang berjudul ‘Wittgenstein’ [mengingat buku tulisan asli Wittgenstein tidak saya miliki]. Dari bacaan itu, apa yang dipahami Wittgenstein dengan language-games bermuara pada apa yang disebutnya ‘forms of life’ [terj. badan kehidupan][1988:83-85].
Dalam penjelasan Grayling, teori Wittgenstein perlu dipahami dalam apa yang ia sebut bahwa, pengertian [understanding] merupakan kondisional [syarat pokok] untuk memahami sebuah ekspresi membahasa. Makna dari sebuah ungkapan, menurut Wittgenstein, adalah apa yang kita dapat pahami ketika kita memahami pengungkapannya. Dengan demikian pengertian itu dibentuk oleh bagaimana kita mengetahui suatu pengungkapan, dan bahkan dalam rupa-rupa language-games yang ada. Orang harus mampu memahami aturan kebahasaan dan pola membahasa masyarakat. Sebab orang mengungkapkan suatu istilah untuk menunjuk pada suatu maksud tertentu telah sesuai dengan apa yang disebut Wittgenstein ‘customs and agreements of a community’. 
Ada aturan yang menjadi standard kebenaran [mis. Tata Bahasa baku], tetapi masyarakat menggunakan ekspresi bahasanya menurut persepakatan [agreements] mereka yang tentu diyakini dapat membangun, mematangkan dimensi-dimensi praktis dalam komunitas itu. Dengan kata lain, menurut Wittgenstein, ada korelasi yang kuat antara unsur makna, pengungkapan, pemahaman, kegunaan suatu istilah, aturan dan dasar persepakatan komunitas atau masyarakat pengguna bahasa [language user].
Masih menurut Wittgenstein, seperti ditulis Grayling, untuk memahami satu kalimat baku [given sentence] berarti kita harus mengikuti aturan [rule] yang menjadi pedoman membahasa sebuah komunitas. Sebab language-games itu diproduksi oleh masyarakat pengguna bahasa, dan bahwa serentak dengan itu mereka memproduksi kebenaran [truth] yang disetujui atau diyakini oleh komunitas membahasa itu. Dalam kacamata etik, Wittgenstein mengajukan pertanyaan retoris, ‘jadi apakah anda berkata bahwa kesepakatan yang dibuat komunitas itu guna mengatur apa yang benar dan salah? Apakah karena hal benar dan salah itu maka mereka menggunakan bahasa mereka itu?
Ternyata Wittgenstein tidak menyederhanakan teorinya itu pada aspek ‘benar’ dan ‘salah’ sebagai sebuah konsep pokok. Apa yang dimaknainya dengan language-games tidak sebatas pada aturan-aturan Tata Bahasa, yang karena itu dapat pula dinilai pada sisi ‘benar’ dan ‘salah’. Ia menuangkan gagasannya itu untuk mengatakan bahwa, pada pola membahasa suatu masyarakat terbangun badan kehidupan [form of life] dari masyarakat atau komunitas membahasa [language users].
Badan kehidupan yang dimaksudkannya ialah konsensus-konsensus linguistik dan non-linguitik, perilaku, asumsi atau pendapat [saya kira yang kini berkembang pula dalam teori local genus dan indigenous knowledge], pola hidup/praktek, tradisi, dan sifat-sifat natural atau etika lokal yang digunakan, dibagikan secara mutual dan digunakan secara timbal balik oleh masyarakat sesuai dengan bahasa atau istilah yang mereka gunakan.
Artinya, badan kehidupan yang tampak dalam language-games itu merupakan pengungkapan karakter dan aktifitas komunitas. Hanya dengan memahami badan kehidupan komunitas pengguna bahasa itu, kita dapat memahami makna hakiki dari pola membahasa mereka. Sebab itu jika kita menerima bahwa membahasa adalah suatu fakta given, tidak berarti bahwa pintalan etika dan jati diri komunitas itu terbentuk begitu saja, melainkan diuji dan dihayati secara terus-menerus melalui seluruh aspek hidup atau badan kehidupan tadi.
Saya menggunakan teori ini untuk menjawab mengapa orang Maluku Utara menggunakan ‘kita’ dan ‘saya’ seturut arti yang telah mereka pahami dan yakini tersebut. Persepakatan [agreements] di antara mereka menunjukkan bahwa pola membahasa itu sudah melukiskan diri mereka yang sesungguhnya.
Jika oleh tafsir sosial penggunaan ‘kita’ untuk menunjuk orang pertama tunggal sebagai bukti bahwa orang Maluku Utara menerima orang lain [jamak, pluralisme] sebagai bagian dari fakta dirinya, saya pun tidak bisa menolak asumsi itu. Yang penting diingatkan saja bahwa, jika itu oleh karena agreements komunitas membahasa, dalam hal ini orang Maluku Utara, maka tentu harus disertai dengan upaya membangun rule, keyakinan dan struktur perilaku yang inklusif.
Demikian pun jika oleh tafsir sosial pula, penggunaan ‘saya’ menunjukkan bahwa orang Maluku Utara menjadikan kebenaran itu bagian dari dirinya [kebenaran diri] dan menuntut semua orang yang hidup di Maluku Utara atau berelasi dengan mereka menjadikan kebenaran sebagai bagian inheren dari diri dan relasi sosial, oleh agreements tadi, itu pun perlu membangun struktur dan cara pandang etik yang inklusif. Di situlah kita bisa menemukan makna kebenaran bersama [common right] yang harus digunakan sebagai ‘master’ [pedoman] hidup bersama.
Kita tidak bisa menyanggah pola membahasa orang Maluku Utara itu sebagai sebuah language-games dalam arti yang lain dari pemahaman Wittgenstein itu. Saya yakin, apa yang disebut Wittgenstein itu sudah dijalani orang Maluku Utara sejak dahulu kala. Teori itu tentu dibangun dari sebuah fakta sosial. Etika sosial orang Maluku Utara selama ini telah terbangun dengan melihat pada kebenaran diri yang inheren. Ini lebih tinggi dari apa yang disebut Wittgenstein dengan ‘badan kehidupan’. Kebenaran diri adalah lapis dasar etik sosial Maluku Utara dan dari situlah seluruh perilaku mereka dibangun. Cara membahasa Pak Lurah dalam dialog tadi, tidak sebatas sebuah proses ekspresi, tetapi keyakinan akan kebenaran diri. [*]

Buku Bacaan:
Crystal, David., 2000. Language Death, UK: Cambridge University Press
Grayling, A.C., 1988. Wittgenstein, Oxford – New York: Oxford University Press


Pastori Jemaat GPM Efata Mayau, Batang Dua
11 Mei 2014 – Jam 14.00-16.27

Tabea Upu Ina Upu Ama

This is my personal blog which contain my ideas. I welcome you to read and give the critical comments. And let us going to progressive discourse!